Search This Blog

Thursday, February 21, 2019

Film: Dari Hitam Putih Hingga Hijau


                Film merupakan salah satu bentuk media yang masih sangat populer di masa sekarang. Meski identik dengan televisi, sejarah film sudah dimulai lebih awal. Menurut Nurudin (2017: 39), asal muasal film bermula pada tahun 1889, saat George Estman membeli hak paten dari Hannibal Goodwin untuk memproduksi film. Film pertama yang ditayangkan untuk umum diproduksi oleh Lumiere bersaudara pada tahun 1895 berjudul “Train Entering the Station”. Film tersebut ditayangkan di sebuah kafe di Paris, dan setiap malam ada sekitar 2.500 orang yang menonton.

               William Dickson (asisten Thomas Alva Edison) kemudian mengembangkan Kinetograph (kamera film awal), dan Kinetoscope (sistem melihat film). Kedua alat tersebut bertujuan supaya pengambilan gambar bisa dilakukan dengan lebih baik dan penonton dapat melihat film dengan lebih jelas. Pada tahun 1896, George Melies membuka bioskop yang pertama di Perancis. Menurut Campbell seperti yang ditulis oleh Nurudin (2017: 39), film pendek menjadi salah satu hiburan utama bagi masyarakat Amerika pada awal 1900-an. Rata-rata  pengunjung bioskop setiap minggu mencapai 40 juta penonton pada tahun 1922, hal ini membuktikan bahwa film sudah sangat populer di masa itu.

               Popularitas film sempat mengalami fluktuasi pada tahun 1950-an dikarenakan kehadiran televisi. Kemunculan berbagai media penyimpanan data, dimulai dari Laserdisc, Compact Disc (CD), Digital Versatile Disc (DVD), hingga yang terbaru Blu-Ray Disc (BD), membuat konsumen tidak lagi harus datang ke bioskop untuk dapat menyaksikan film. Terlebih kehadiran BD yang memiliki kapasitas besar (antara 25–100 GigaByte) per keping, membuat film dapat ditayangkan dengan format High Definition (HD), bahkan sekarang mencapai 4K (resolusi empat kali lipat Full HD), membuat tampilan film BD dapat melebihi apa yang ditampilkan di bioskop (asalkan juga didukung oleh televisi yang memadai). Terlebih lagi, film yang dirilis dalam format BD biasa memiliki tambahan konten atau adegan yang tidak ada di versi bioskopnya. Meski begitu, ada satu faktor yang tidak bisa dikalahkan dari film bioskop, aktualitas.

               Mayoritas (atau bahkan semua) film, terutama Hollywood pasti akan selalu tayang di bioskop terlebih dahulu sebelum disusul oleh versi fisik atau digital beberapa bulan kemudian, dengan catatan bahwa film-film tersebut lolos sensor, dan dapat ditayangkan di bioskop-bioskop dalam negeri. Hal inilah yang menjadi alasan utama kenapa banyak orang, terutama generasi muda, tetap gemar datang ke bioskop. Menurut Wahyuni (2014: 51), alasan mengapa film begitu digemari publik adalah karena sifatnya yang sangat menghibur, beberapa genre bahkan dapat memengaruhi, menginspirasi, atau memberikan pengetahuan bagi penonton, seperti film biografi, anti perang, atau arti hidup dan kemanusiaan.

               Layaknya media-media lain, film juga tidak bisa lepas dari perkembangan zaman. Tidak hanya dari segi penonton dan bioskop, perubahan juga terjadi dalam proses pembuatan film. Satu teknologi yang paling sering digunakan dalam dunia Hollywood adalah ‘Green Screen’. Warna hijau digunakan karena sensor kamera digital modern paling peka terhadap warna hijau (Zhi, 2015: 1). Teknik ini menggunakan backdrop (latar belakang) berwarna hijau (atau kadang biru, sesuai kebutuhan) saat pengambilan gambar/adegan. Saat proses penyuntingan, layer aktor/aktris dapat dipisahkan dari backdrop dan ditempatkan di latar belakang lain sesuai adegan tanpa kehilangan detail-detail penting seperti rambut atau bulu. Metode ini paling sering digunakan dalam film fantasi atau sains fiksi, dimana hampir mustahil menghadirkan setting yang sesuai dengan cerita (luar angkasa, pulau yang melayang di langit), selain tentunya menghemat biaya yang dulunya diperlukan untuk membuat diorama setting.

Tidak hanya setting, teknik ini juga dapat digunakan untuk mengubah rupa atau pakaian pemain. Aktor akan memakai baju hijau saat pengambilan gambar, sehingga tampak menyatu dengan latar belakang. Digabungkan dengan teknologi Motion Capture (Mocap), kedua teknik ini dapat menghasilkan karakter, baik berwujud humanoid (mirip manusia) atau tidak, dengan gerakan yang lebih fluid, dinamis, halus, serta memiliki mimik wajah yang sangat ekspresif, karena mengikuti gerakan dari aktor yang bersangkutan. Dua contoh film yang menggunakan kedua teknik ini adalah Avatar (2009) dan Alita: Battle Angel (2019), keduanya merupakan besutan James Cameron (sutradara Hollywood ternama yang juga membuat film Titanic). Dalam Avatar, bisa kita lihat saat semua aktor yang berperan sebagai bangsa Na’vi dapat dikonversi dengan sempurna ke dalam wujud yang berbeda (makhluk humanoid setinggi lebih dari tiga meter, berkulit biru dengan buntut) dalam setting yang luar biasa indah dan seolah tampak nyata. Ini merupakan nilai ‘magis’ dari teknik Green Screen dan Mocap, dapat membuat apa yang selama ini fantasi belaka menjadi nyata dan dapat disaksikan penonton.

Green Screen memang memberi banyak keuntungan, terutama saat pengambilan gambar dimana dapat menghemat banyak waktu dan uang, tapi teknik ini bukan tanpa kelemahan. Proses penyuntingan membutuhkan waktu yang lama dan ketelitian yang luar biasa, bila dilakukan dengan buruk maka hasil dapat terlihat tidak realistis (karakter tidak tampak menyatu dengan latar belakang). Diperlukan juga peralatan komputer yang sangat canggih dalam skala besar, dan tentu tidak murah supaya dapat melakukan proses penyuntingan dan rendering untuk menyelesaikan film.

Mengambil penjelasan dari Geek.com yang ditulis oleh Osborne (2009), proses render dari film Avatar membutuhkan perangkat komputer sebanyak 34 rak, masing-masing rak terdiri atas 32 mesin, dengan total 40.000 prosesor dan 104 TeraByte memori (RAM). Jaringan komputer tersebut menjalankan tugas rendering sebanyak 1,4 juta operasi setiap harinya, yang terdiri atas pemrosesan 8 GigaByte data per detik, dan dijalankan penuh 24 jam selama lebih dari sebulan. Dapat dibayangkan betapa besar biaya serta usaha yang diperlukan untuk membuat maha karya seperti Avatar, sangat memukau, namun juga sangat mahal.


Daftar Pustaka
Buku
1.      Nurudin. 2017. Perkembangan Teknologi Komunikasi. Depok: Rajagrafindo Persada.
2.      Wahyuni, Isti Nursih. 2014. Komunikasi Massa. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Jurnal
1.      Zhi, Jin. 2015. An Alternative Green Screen Keying Method For Film Visual Effects. The International Journal of Multimedia & Its Application (IJMA) Vol. 7, No. 2, April 2015, DOI : 10.5121/ijma.2015.7201. Diunduh pada 19 Februari 2019.

Artikel Daring
1.      Osborne, Doug. (2009, 24 Desember). The Computing Power That Created Avatar. Diakses pada 20 Februari 2019, dari https://www.geek.com/chips/the-computing-power-that-created-avatar-1031232/

Radio: Dulu dan Sekarang


               Mendengar kata ‘radio’ mungkin dalam benak kita akan langsung terbayang sebuah siaran yang hanya berupa suara tanpa gambar, yang biasa kita dengarkan di mobil atau rumah. Siaran radio sendiri merupakan salah satu bentuk dari pemanfaatan gelombang radio sebagai media komunikasi, baik antar pribadi maupun untuk komunikasi massa (Minnesota, 2016). Kedua fungsi tersebut masih dijalankan hingga sekarang, dan kebanyakan orang akan mengasosiasikan kata ‘radio’ dengan stasiun radio yang melakukan penyiaran untuk publik. Gelombang radio sebenarnya tidak hanya berfungsi untuk penyiaran audio/suara saja, namun juga dapat digunakan untuk televisi dan telepon selular, menjadikannya salah satu saluran informasi yang paling penting.

               Orang yang pertama kali memperkenalkan teknologi radio adalah Guglielmo Marconi. Dirinya terinspirasi oleh Hienrich Hertz, terutama hasil penelitiannya mengenai komunikasi nirkabel. Marconi lalu mencoba meniru eksperimen Hertz dan berhasil mengirimkan transmisi dari satu sisi loteng rumahnya ke sisi yang lain. Awalnya Marconi ingin meminta bantuan pemerintah Italia untuk penelitiannya, namun karena pemerintah Italia tidak menunjukkan respon positif, Marconi pindah ke Inggris untuk mematenkan teknologi ciptaannya. Pada mulanya, teknologi radio Marconi hanya digunakan kapal laut untuk mengirimkan pesan ke kapal lain dan pos pelabuhan (Nurudin, 2017: 41), dan belum digunakan untuk penyiaran.

               Pada 1910, Enrico Caruso merintis siaran radio. Perkembangan siaran radio terus mengalami kemajuan, sampai beberapa perusahaan Amerika membeli hak paten dari Marconi dan membentuk Radio Corporation of America (RCA). Pada tanggal 1 Januari 1922, Menteri Perdagangan Amerika telah mengeluarkan 30 izin siaran, dan jumlah itu terus meningkat menjadi 556 lisensi pada awal 1923. Penetrasi radio di rumah tangga Amerika mencapai 40% pada 1930, dan mencapai jumlah yang singnifikan yakni 90% pada tahun 1947 (Nurudin, 2017: 41-42).
              
               Masa keemasan radio terjadi sekitar tahun 1930 hingga 1950-an. Cukup miris, mengingat dunia sedang terguncang akibat berbagai perang, terutama Perang Dunia ke-2 pada masa itu. Satu hal yang membuat radio populer pada masa itu adalah fakta bahwa ia gratis, sehingga menjadi sumber informasi dan hiburan yang berharga bagi banyak masyarakat kurang mampu. Radio merupakan salah satu bentuk media massa paling awal dan memiliki jadwalnya sendiri. Masyarakat yang selama ini hanya mencari informasi lewat media cetak seperti koran atau buku, mulai beralih ke radio karena menghadirkan pengalaman yang berbeda yang turut mengubah gaya hidup mereka.

               Kehadiran televisi pada tahun 1950-an membuat banyak orang berpikir bahwa radio akan musnah, karena televisi memiliki sesuatu yang tidak dimiliki radio yaitu gambar. Gabungan dari audio dan visual membuat televisi mampu memberikan informasi yang lebih jelas dan detail deibandingkan dengan radio. Nyatanya, radio tetap mampu bertahan hingga sekarang. Menurut Wahyuni (2014: 50) hal itu dikarenakan sifat radio yang luwes dan lebih fleksibel dibandingkan televisi. Radio siaran dapat didengarkan di mana saja dan lewat banyak perangkat, tidak seperti siaran televisi yang mutlak memerlukan media televisi. Bahkan radio biasanya tetap dapat digunakan saat terjadi bencana alam, seperti gempa Yogya 2006, dimana radio memiliki peranan penting dalam penyebaran informasi karena televisi tidak bisa diakses (listrik mati). Banyak iklan sudah beralih ke televisi, namun radio tetap memiliki kemampuan menjual bagi sebagian masyarakat, dikarenakan sifatnya yang memang ditujukan bagi kelompok-kelompok khusus (misalkan penggemar budaya dan musik Jepang). Radio juga tetap menjadi salah satu media penghibur saat bersantai, bekerja, atau terjebak macet di jalanan (dalam mobil).
              
               Radio yang dulu sangat populer di kalangan muda-mudi sebagai media hiburan dan sumber informasi, mulai tergerus popularitasnya semenjak kehadiran internet dan layanan streaming musik seperti Spotify atau Apple Music. Berdasarkan data dari Music Business Association pada tahun 2016 dalam artikel Austin (2017), generasi Z (mereka yang lahir setelah tahun 1995), hanya menghabiskan 12 persen waktu mereka untuk mendengarkan radio, dimana setengah lebih waktu mereka digunakan untuk mendengarkan layanan streaming musik digital atau Youtube. Berdasarkan statistik yang dilakukan pada remaja umur 13-18 tahun di Amerika, terjadi penurunan pendengar radio AM/FM sebesar hampir 50% dalam rentang waktu 2005 hingga 2016 (Miller, 2017: 10).

               Salah satu area dimana radio masih mampu bersinar adalah mobil. Pengemudi mobil masih banyak yang mendengarkan radio saat sedang berkendara, terutama saat terjebak dalam kemacetan, sekedar untuk hiburan atau mencari informasi lalu lintas. Namun, hal ini juga mulai tergerus oleh kehadiran perangkat media pintar yang sudah banyak terintegrasi, terutama di mobil-mobil keluaran baru. Perangkat ini dapat dengan mudah terkoneksi dengan smartphone dan internet, membuat banyak pengemudi muda lebih memilih mendengarkan musik yang ada di gawai pintar mereka dibandingkan mendengarkan siaran radio. Hal ini diperburuk dengan fakta bahwa banyak produsen gawai pintar memilih untuk tidak lagi membenamkan chip FM untuk menangkap sinyal radio lewat gawai buatan mereka. Hal ini seolah menunjukkan bahwa banyak perusahaan melihat radio sebagai ‘masa lalu’ dan sudah tidak relevan bagi masyarakat modern (Miller, 2017: 14).

               Dengan sejarah yang panjang, radio diharapkan tetap mampu bertahan di tengah gempuran digitalisasi yang terjadi saat ini. Masih ada beberapa penyedia layanan radio yang meilhat gawai pintar (smartphone, podcast, dan smart speaker) sebagai ancaman, serta menolak untuk berubah demi mempertahankan ‘keasilan’ dari radio. Menurut Gordon Borrell dari Asosiasi Borrell, radio konvensional harus memanfaatkan media digital sebagai aset untuk menjangkau konsumen-konsumen baru (anak muda). “Untuk berkembang, radio harus menyadari bahwa peran mereka bukan untuk menjual spot radio (iklan lewat siaran radio), namun juga memanfaatkan berbagai iklan digital dan layanan lain untuk menarik minat konsumen mereka”, terang Borrell (Ely, 2018). Radio harus mampu bertransformasi dan merangkul digitalisasi untuk menghadirkan konten yang lebih menarik, aktual, dan mudah diakses oleh siapapun agar tetap relevan bagi masyarakat modern.


Daftar Pustaka :
Buku
1.      Nurudin. 2017. Perkembangan Teknologi Komunikasi. Depok: Rajagrafindo Persada.
2.      Wahyuni, Isti Nursih. 2014. Komunikasi Massa. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Jurnal
1.      Miller, Larry S.. 2017. Paradigm Shift: Why Radio Must Adapt To The Rise Of Digital. The National Association of Broadcasters, diakses pada 12 Februari 2019.
2.      Minnesota, University of. 2010. Understanding Media and Culture: An Introduction to Mass Communication, diakses pada 12 Februari 2019.

Artikel Daring
1.      Austin, Mark (2017). Will ‘Generation Z’ Spell The End of Traditional Terrestrial AM/FM Radio?. Diakses pada 12 Februari 2019, dari https://www.digitaltrends.com/music/future-of-radio/
Ely, Gene (2018, 30 Maret). Radio Big Challenge: Finding Its Way Forward in This New Digital World. Diakses pada 12 Februari 2019, dari https://www.forbes.com/sites/geneely/2018/03/30/radios-big-challenge-finding-its-way-forward-in-this-new-digital-world/#710f8ee55a26

Thursday, February 7, 2019

Majalah: Bertahan Hidup di Tengah Badai Teknologi

            Majalah merupakan salah satu bentuk media cetak dengan sejarah yang cukup panjang. Majalah mulai berkembang di Inggris pada tahun 1700-an, berisikan berbagai berita baik fiksi ataupun nonfiksi, tergantung kebutuhan pembacanya. Ada versi lain dalam buku Media and Culture (2002), R. Campbell mengatakan bahwa majalah pertama kali muncul di Philadelphia pada tahun 1741, sekitar 50 tahun setelah munculnya surat kabar. Majalah ini harganya lebih mahal dari surat kabar, karena itu hanya beberapa orang saja yang bisa membacanya. Karena harganya yang mahal, majalah sering dibuat dan didistribusikan oleh kelompok khusus, seperti Gereja. The Saturday Evening Post (1821) menjadi majalah pertama yang terbit dalam sejarah Amerika. Sayang, pada tahun 1969, majalah ini gulung tikar karena kalah bersaing dengan televisi (Nurudin, 2017: 34-35).
              
Perjalanan majalah dalam dunia media tidak lepas dari guncangan. Majalah sempat mengalami masa keemasan pada awal abad ke-20, dimana menurut Nurudin (2017: 35), majalah merupakan target utama bagi pemasang iklan, karena majalah memiliki jangkauan luas dengan sasaran yang khusus (setiap majalah memiliki segmen pembaca masing-masing). Pada tahun 1958-1960, jumlah judul majalah baru yang terbit di Amerika mengalami kenaikan hampir dua kali lipat. Mulai tahun 1970, pendapatan majalah lewat iklan mulai menurun karena banyak orang memilih memasang iklan di televisi, namun saat itu majalah masih tetap bertahan.
              
Awan gelap mulai menyelubungi majalah di era digital saat ini. Kehadiran internet dan media sosial membuat orang (terutama smartphone) dapat dengan mudah mencari informasi kapan saja mereka mau. Majalah yang dulu menjadi salah satu sumber informasi paling komprehensif, perlahan mulai ditinggalkan, karena kebanyakan informasi yang ditulis di majalah sudah terlebih dahulu menyebar lewat internet. Ditambah fakta bahwa berita yang disebarkan di internet kebanyakan dapat diakses secara gratis, membuat publik semakin enggan untuk membeli majalah.
              
Contoh paling nyata di Indonesia adalah tabloid BOLA yang sudah terbit sejak tahun 1984, namun akhirnya harus menyerah pada perkembangan zaman. Tabloid olahraga yang berada di bawah naungan Kompas Gramedia ini resmi berhenti edar pada 26 Oktober 2018 lalu. Tidak hanya BOLA, Kompas Gramedia juga ‘menyuntik mati’ beberapa tabloid dan majalah mereka pada tahun-tahun sebelumnya, seperti CHIP, Sinyal, Kawanku (Desember 2016), dan majalah anak muda Hai (Juni 2017), padahal majalah Hai sudah setia menemani pembacanya sejak tahun 1977 (Syafina, 2018). Hal ini membuktikan bahwa umur panjang dengan basis konsumen yang banyak belum tentu cukup untuk menunjang kehidupan sebuah brand majalah, apabila tidak mampu menarik atensi pangsa pasar baru (generasi muda pengguna teknologi).
              
Menyiasati perubahan zaman, beberapa majalah melakukan konvergensi dengan cara mengeluarkan versi digital dari majalah mereka yang bisa diakses lewat internet, atau diunduh lewat aplikasi tertentu. Namun hal ini belum tentu menjadi juru selamat bagi mereka, seperti majalah Digital Camera Indonesia yang sudah mengeluarkan versi digital sejak tahun 2012 lewat aplikasi Wayang Force, namun tetap harus menyerah pada akhir 2017 dan mundur dari perhelatan majalah di Indonesia. Kembali faktor gratis menjadi momok bagi majalah, terutama di Indonesia yang penduduknya terkenal dengan slogan, “Kalau bisa gratis, kenapa harus bayar?”.
              
Iklan merupakan penyokong utama bagi kehidupan sebuah majalah, namun keuntungan dari iklan yang dimuat lewat media online atau majalah digital belum mampu menyamai televisi atu bahkan media cetak konvensional. Menurut Big Mobile, perusahaan periklanan asal Australia, kue iklan digital di Indonesia hanya sekitar 17 persen dari total keseluruhan belanja iklan, dimana pendapatan iklan digital masih didominasi oleh dua raksasa teknologi, Facebook dan Google. Tidak hanya dua perusahaan itu, media online (termasuk majalah) juga harus berbagi kue dengan influencer di media sosial untuk mendapatkan view dan keuntungan sebanyak-banyaknya (Adam, 2018).
              
Beberapa media di dunia mencoba mencari keuntungan dengan menerapkan sistem berlangganan (subscribe) bagi pembaca yang ingin mendapatkan konten berita secara lengkap. Contohnya adalah Washington Post dan New York Times di Amerika, dengan jumlah subscriber yang terus meningkat setiap tahunnya. Apakah ini bisa menjadi solusi untuk mempertahankan eksistensi majalah di Indonesia? Sepertinya belum tentu, karena menurut PwG (lembaga survey di Amerika), keuntungan yang disumbang secara digital ini baru mencapai 16% pada tahun 2015, dan diprediksi baru akan mencapai 30% pada tahun 2020 (Benedict, 2018). Masalahnya tidak jauh berbeda dari Indonesia, banyak orang enggan membeli majalah (digital) karena lebih memilih sumber informasi lain yang gratis, ditambah biaya pemasangan iklan secara digital biasanya lebih murah dibanding versi cetak sehingga tidak mencetak keuntungan yang besar bagi perusahaan majalah.
              
Dengan keuntungan yang semakin menurun dan persaingan yang ketat, dikhawatirkan majalah tidak akan lagi memiliki daya tarik seperti dulu, atau artikel yang ditulis tidak lagi eksklusif dan terpercaya, karena majalah harus menekan pengeluaran sebesar-besarnya. “Once you let paper go, you’re just another website. You’re just more space junk floating around out there,” sebuah peringatan dari David Hepworth (jurnalis musik dan penulis dari Inggris) mengenai majalah yang seolah kehilangan pesonanya saat beralih ke versi digital (Benedict, 2018).

Peralihan menuju dunia digital dan internet memang tidak bisa dihindari, namun setidaknya majalah harus tetap menjaga kualitas tulisan mereka agar tetap relevan dan dipercaya pembaca. Jangan menjadi seperti banyak portal online yang hanya mengandalkan kecepatan, namun informasi tidak mendetail, bahkan kadang mengandung kekeliruan. Menurut Andreas Harsono (pendiri yayasan Pantau dan pengajar jurnalisme), kualitas jurnalisme di platform digital harus tetap bermutu dan tidak lebih rendah dari versi cetaknya, atau berpotensi merusak brand majalah atau media cetak itu sendiri (Zuhra, 2017).


Daftar Pustaka

Buku
1.      Nurudin. 2017. Perkembangan Teknologi Komunikasi. Depok: Rajagrafindo Persada.

Jurnal
1.      Benedict, Catherine. 2018. The Future of the Magazine Industry. Journal.businesstoday.org. Diakses pada 5 Februari 2019.
2.      Mcilroy, Thad. 2018. The Future of Magazines. The Future of Publishing. Diakses pada 5 Februari 2019.

Artikel Daring
1.      Zuhra, Wan Ulfa Nur. (2017, 8 Februari). Media Cetak Bisa Mati, Jurnalisme (Seharusnya) Tidak. Diakses pada 6 Februari 2019, dari https://tirto.id/media-cetak-bisa-mati-jurnalisme--seharusnya--tidak-ciy6
2.      Adam, Aulia. (2018, 9 Februari). Benarkah Bisnis Media Online Tak Secerah Masa Depan Internet?. Diakses pada 6 Februari 2019, dari https://tirto.id/benarkah-bisnis-media-online-tak-secerah-masa-depan-internet-cEv5
Syafina, Dea Chadiza. (2018, 19 Oktober). Tabloid Bola Tutup dan Sandaran Baru Bisnis Kompas Gramedia Group. Diakses pada 6 Februari 2019, dari https://tirto.id/tabloid-bola-tutup-dan-sandaran-baru-bisnis-kompas-gramedia-group-c7GE

Wednesday, January 30, 2019

Surat Kabar : Menjaga Identitas dalam Perkembangan Teknologi dan Kebebasan Berpendapat

             Surat kabar (koran) merupakan bentuk media massa tertua di dunia, tercatat koran pertama terbit di Amerika Utara pada tahun 1690 dengan nama “Publick Occurences Both Foreign and Domestick” yang terdiri dari beberapa halaman saja. Baru pada tahun 1830-an muncul surat kabar yang bisa dikatakan sukses di New York, dikatakan sukses karena surat kabar tersebut bisa disebarkan ke negara-negara taklukkan Eropa (new world), serta meningkatkan minat baca masyarakat Amerika secara signifikan, terutama setelah revolusi industri yang memangkas biaya produksi koran sehingga daya beli masyarakat ikut bertambah (Nurudin, 2017: 33-34).

               Pada masa itu, surat kabar sering digunakan sebagai media untuk memberitakan tentang perang sipil atau konflik lain. Persaingan antara surat kabar semakin meningkat pada tahun 1880-an, ditambah kebutuhan masyarakat akan informasi yang semakin meningkat, membuat beberapa surat kabar sering memilih judul yang cenderung bombastis, sensasional, dan kadang terlalu didramatisir, namun hal inilah yang menjadi cikal-bakal dari praktik jurnalisme modern (Nurudin, 2017:34).

Sejarah membuktikan bahwa konflik dalam komunikasi media paling sering terjadi antara pihak berwenang (yang bertugas menjaga keteraturan negara) dan pers yang menginginkan kebebasan berekspresi tanpa batas (Kaul, 2012: 3). Hal inilah yang terjadi pada masa Orde Baru, banyak pers dibredel atau dicabut izin terbitnya karena memberitakan sesuatu yang dianggap mengkritik pemerintahan. Surat kabar sebagai salah satu media massa simbol kebebasan berpendapat masyarakat justru malah dikekang di dalam sebuah negara demokrasi yang seharusnya menjunjung tinggi aspirasi masyarakat. Praktik ini berkurang drastis setelah Reformasi, dimana hak-hak pers telah dikembalikan sepenuhnya. Meski menurut Kaul (2012: 2), di seluruh dunia masih terdapat kurang lebih delapan puluh dua jenis sensor yang sering dipraktekkan, baik oleh pihak berwajib atau badan pers itu sendiri.

Kebebasan berpendapat semakin terlihat di masa modern ini, dimana teknologi telah berkembang dengan pesat. Internet membawa angin segar bagi kegiatan berkomunikasi dan berpendapat manusia. Lewat media sosial misalnya, seseorang dapat dengan mudah mencari berbagai informasi yang bahkan mungkin belum naik cetak di surat kabar atau televisi. Hal ini membuat generasi muda cenderung mencari informasi lewat media sosial karena dianggap jauh lebih aktual dan interaktif (menarik). Hal ini juga memperlihatkan kekuatan media sosial sebagai media baru, terlebih statistik menunjukkan terdapat 600 juta pengguna Facebook pada akhir 2010, dan 175 juta pengguna Twitter pada September 2010, mengisyaratkan seberapa populer media sosial di kalangan para pengguna teknologi.

Hal ini tentu bukan tanpa alasan, media sosial dianggap sebagai cara baru untuk menunjukkan eksistensi diri dan kebebasan berpendapat. Menurut Kaul (2012: 2), teknologi baru seperti media sosial memberikan kekuatan yang baru, mampu membengkokkan nalar, mentransformasi institusi, membebaskan pikiran, namun juga bersifat menekan dan memunculkan konsekuensi serta resiko baru yang belum pernah ditemui di media konvensional. Selain berbagai faktor tersebut, kebanyakan konten yang beredar di media sosial juga bisa lolos dari sensor, sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi yang sebenar-benarnya lewat media sosial, dibandingkan dengan berita yang dimuat di surat kabar atau televisi.

Karena fenomena ini, minat baca masyarakat terhadap surat kabar menurun cukup signifikan. Masyarakat merasa sudah cukup mendapatkan informasi lewat berita yang beredar di media sosial. Tentu saja hal ini menimbulkan berbagai resiko, tidak adanya sensor di media sosial memang memberikan keleluasaan dalam penyebaran informasi, namun hal itu juga membuat berita-berita yang belum/tidak jelas validitasnya mudah menyebar, sehingga resiko manipulasi fakta dan informasi sangat rentan terjadi.

Untuk menyiasati masalah ini, beberapa surat kabat membuka portal berita online yang biasa diakses kapan saja lewat jaringan internet, misalnya Kompas dan Tempo. Portal berita online memberikan keleluasaan pada masyarakat untuk mengakses berita secara cepat, sangat aktual, dan lebih terjamin kredibilitasnya dibanding dengan informasi yang beredar lewat media sosial. Tapi, portal berita online bukannya tanpa kelemahan, berita yang ditulis di portal online cenderung lebih singkat, tidak terlalu mendetail, dan kadang mengalami beberapa revisi karena penulis/jurnalis online mengejar waktu supaya artikel bisa di-post secepat mungkin, namun kadang hal itu membuat artikel online mengandung beberapa kekeliruan (walau biasa tidak terlalu parah).

Teknologi informasi telah merubah dunia jurnalisme secara total. Kehadiran internet telah mendobrak batasan bahwa media tradisional adalah satu-satunya sumber informasi. Jaringan internet membentuk sesuatu yang disebut networksociety, dalam komunitas ini terdapat pengguna baru yang disebut ‘prosumer’ (Pont-Sorribes, 2013: 1).  Pengguna ini tidak hanya merupakan konsumen informasi yang aktif, namun juga turut menjadi penulis dan penyebar informasi, contoh paling nyata dari komunitas ini adalah media sosial. Terkadang, jurnalis pers juga turut mencari informasi lewat media sosial. Teknologi telah menjadi alat baru bagi jurnalis untuk mendapatkan referensi secara cepat. Sisi positifnya menurut Pont-Sorribes (2013: 1), 80% jurnalis mengatakan bahwa media online membuat interaksi dengan pembaca berjalan dengan lebih lancar, dan mereka bisa mendapatkan umpan balik lebih cepat tentang artikel yang mereka tulis.

Satu kekhawatiran yang muncul dari tendensi ini adalah timbulnya sesuatu yang disebut sebagai pseudoscience atau kebenaran semu. Sebuah fakta tidak benar yang disebarkan secara terus-menerus lewat media online (sosial) sehingga lama-kelamaan akan menarik perhatian dari sekelompok orang, dan bahkan diakui sebagai sebuah kebenaran oleh kelompok tersebut, dan jurnalis yang harusnya berperan sebagai agen kebenaran, malah ikut menyebarkan kebenaran semu tersebut semata-mata demi mendapatkan tulisan yang menarik di mata masyarakat, Contoh kasus yang paling jelas adalah munculnya kelompok penganut kepercayaan bumi datar, menyebar dan mencari pengikut lewat media sosial yang minim sensor konten.

Ada bukti nyata yang menyiratkan bahwa ada perubahan yang terjadi dalam dunia jurnalisme profesional. Jurnalisme pers, terutama media cetak, harus beradaptasi dengan media baru tanpa melupakan resep lama dalam penulisan dan produksi naskah berita. Mencari informasi, mengklarifikasi informasi, mencocokkan dengan fakta, baru menyebarkan berita. Mereka yang mampu beradaptasi dengan perubahan, niscaya akan bertahan di dunia yang berjalan dengan cepat dan cenderung tak kenal ampun ini (Pont-Sorribes, 2013: 1).


Daftar Pustaka :
·        Buku :
1.   Nurudin. 2017. Perkembangan Teknologi Komunikasi. Depok: Rajawali Pers.
2.  Junaedi, Fajar, Ishadi S.K. dan Diyah Ayu Rahmitasari. 2017. Manajemen Media di Indonesia. Jakarta: Obor.
3.  Yaumi, Muhammad. 2018. Media & Teknologi Pembelajaran. Jakarta: Prenadamedia Group. 
·        Jurnal :

  1.  Kaul, Vineet. 2012. The Pros and Cons of New Media and Media Freedom. Journal of Mass Communication & Journalism, Volume 2, Issue 5 doi: 10.4172/2165-7912.1000114. Diunduh pada 21 Januari 2019.
  2. Pont-Sorribes, Carles dan Sergi Cortinas-Rovira. 2013. New Media, Old Journalistic Work Routines. Journal of Mass Communication & Journalism, Volume 3, Issue 4 doi:10.4172/2165-7912.1000e142. Diunduh pada 21 Januari 2019.

Thursday, January 24, 2019

Konvergensi Media dan Potensi Masa Depan

               A. Pendahuluan
Teknologi merupakan sesuatu yang terus berkembang dan berubah seiring perjalanan zaman. Teknologi sebagai hasil ciptaan dan buah pikiran manusia akan selalu mengalami perubahan yang disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan masyarakat di zaman tersebut. Sesuatu yang dianggap canggih dan sangat bermanfaat pada masa ini belum tentu akan dianggap sama dalam lima atau sepuluh tahun ke depan.
Teknologi juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari industri media. Perkembangan teknologi yang sangat pesat turut membawa perubahan yang besar bagi industri media. Salah satu dampak langsung dari perkembangan teknologi adalah timbulnya konvergensi media. Menurut Astrie (2012: 588), konvergensi media adalah integrasi berbagai layanan media melalui sistem teknologi, yang kemudian memungkinkan semakin terdiversifikasinya jenis-jenis produk media massa. Konvergensi bukan hanya sekedar proses teknologi yang menggabungkan beberapa fungsi media ke dalam satu alat, namun lebih mewakili perubahan kultural di mana konsumen akan terdorong untuk mencari informasi baru dan menghubungkan berbagai konten media yang sebelumnya tersebar. (Astrie, 2012: 590)
Perkembangan teknologi juga membawa tantangan baru bagi industri-industri di dunia. Hanya mereka yang sanggup beradaptasi dan menciptakan inovasi terus-menerus yang akan sanggup bertahan.

               B. Teknologi Analog & Digital
Evolusi teknologi tidak serta-merta terjadi begitu saja. Dibutuhkan proses yang cukup panjang sampai kita mengenal beragam teknologi yang kita biasa gunakan sekarang. Pada masa lalu, teknologi dimulai dengan sebutan sistem analog. Untuk format media cetak sendiri dimulai dengan ditemukannya mesin cetak oleh Johann Gutenberg pada abad ke 15 di Eropa. Hal ini membuat proses percetakan dan produksi tulisan cetak menjadi lebih cepat, dan menjadi cikal-bakal dari surat kabar.
Ciri khas dari sistem analog adalah setiap alat biasa hanya memiliki satu fungsi spesifik. Sebagai contoh mesin ketik hanya bisa untuk mengetik, kamera film yang hanya bisa mengambil foto, namun tidak ada cara untuk melihat hasil foto secara langsung tanpa dicuci terlebih dahulu, atau bahkan walkman yang sangat terkenal pada tahun 1990-an hingga awal 2000, dimana alat tersebut hanya bisa memutar lagu lewat kaset pita tanpa ada fungsi lain.
Dikarenakan fungsinya yang sangat spesifik tersebut, sistem analog memiliki beberapa kelemahan, antara lain :
·      Tidak praktis, untuk mengerjakan beragam pekerjaan maka dibutuhkan beberapa jenis alat analog sehingga membuat pekerjaan tidak efisien (harus berganti-ganti alat).
·      Proses kerja yang lebih lambat. Ambil contoh kamera film, untuk melihat hasil foto saja kita harus mencuci filmnya dulu di kamar gelap, baru dicetak ke lembaran foto, yang mana tidak semua orang memiliki alat dan bisa melakukannya (pada masa tersebut).
Walaupun demikian teknologi analog juga memiliki beberapa kelebihan, misalnya biaya produksi yang lebih murah serta cenderung lebih awet / tidak mudah rusak (beberapa perusahaan bahkan masih menggunakan pita kaset untuk menyimpan data karena dianggap lebih tahan lama dan aman dari hacker). Meski memiliki kelemahan, namun teknologi analog merupakan batu loncatan bagi manusia dalam usahanya mengembangkan teknologi untuk masa depan.
Pada masa modern ini kita sudah mengenal teknologi digital. Secara sederhana format digital bisa dianggap sebagai transformasi fungsi analog ke dalam bentuk bit (0 dan 1) atau biasa kita sebut program, untuk menjalankan fungsi yang sama/sangat mirip dengan teknologi analog yang menjadi acuan. Hal ini membuat sebuah perangkat digital dapat memiliki beberapa fungsi alat analog yang berbeda sekaligus, walaupun memiliki bentuk yang berbeda, karena semua dijalankan lewat program dan konversi data.
Contoh yang paling sederhana adalah smartphone yang biasa kita pakai sehari-hari. Dengan sebuah alat yang hanya seukuran telapak tangan kita sudah bisa menjalankan beragam fungsi yang mewakili beragam perangkat analog (jam, kamera, mengetik tulisan, memutar lagu, dll). Hal ini membuat teknologi digital sangat efisien dan mudah digunakan, namun juga memiliki harga yang relatif lebih mahal dan lebih rentan mengalami kerusakan dibanding dengan perangkat analog.

              C. Potensi Masa Depan
Evolusi dari media digital turut membawa perubahan yang besar dalam keseharian manusia. Beberapa jenis media juga mengalami perubahan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Salah satu contoh adalah media cetak seperti Kompas yang sekarang juga memiliki versi digital dan portal berita online yang bisa diakses lewat internet. Hal ini membuat konsumen dapat mengakses berita secara lebih cepat dan aktual tanpa perlu menunggu terbitnya versi cetak (koran).
Hadirnya beragam media sosial juga membuat masyarakat awam tidak lagi hanya menjadi ‘pembaca’ konten berita saja, namun juga bisa menjadi pihak yang membuat dan menyebarkan berita. Hal ini tentu mewakili kebebasan berpendapat yang dijunjung oleh negara Demokrasi serta pers itu sendiri, dimana berita yang diterbitkan oleh sebagian media cetak terkadang melewati berbagai proses sensor untuk kepentingan perusahaan atau menutupi fakta sebenarnya dari publik. Hanya saja perlu diingat bahwa informasi bohong (hoax) juga dapat disebarkan dengan mudah lewat media sosial, sehingga diperlukan kebijaksanaan dari konsumen untuk memilah dan mencari tahu mana berita yang benar dan mana yang salah.
Media digital yang sangat gencar dikembangkan oleh negara-negara maju saat ini adalah Virtual Reality (VR). VR merupakan sebuah teknologi yang dapat membuat seseorang ‘merasakan’ sensasi media lewat semua panca inderanya, tidak hanya lewat penglihatan atau pendengaran saja. VR akan memberikan pengalaman yang sangat berbeda dibanding media-media lawas, karena pengguna akan benar-benar serasa berada di suatu tempat atau mengalami suatu hal secara langsung. Teknologi ini membuka gerbang yang sangat luas untuk aplikasi di berbagai bidang, seperti bisnis (pengguna bisa seperti melakukan rapat sungguhan walaupun terpisah jarak yang jauh), sosial (VR akan membuat hubungan jarak jauh menjadi seperti bertemu secara langsung, dan berbagai game online akan membuat pemain seolah-olah bertemu dan bermain dengan pemain lain secara langsung), atau medis (terapi pengobatan pasca trauma dengan skenario-skenario yang dapat ditampilkan dengan sangat nyata, sehingga jauh lebih efektif daripada metode konvensional), dan masih banyak lagi. Mari kita tunggu sejauh mana teknologi akan membawa kita di masa depan.




Daftar Pustaka

  1. Junaedi, Fajar. Ishadi S.K., dan Diyah Ayu R. 2017. Manajemen Media di Indonesia. Jakarta: Penerbit Obor.
  2. Wibowo, Wahyu (Ed.). 2013. Kedaulatan Frekuensi : Regulasi Penyiaran, Peran KPI, dan Konvergensi Media. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.
  3. Krisnawati, Astrie. 2012. “Konvergensi dan Konglomerasi Bisnis Media” dalam The Reposition Of Communication In The Dynamic Of Convergence: Reposisi Komunikasi Dalam Dinamika Konvergensi (hlm. 588-597). Jakarta: Kencana.
  4. Johnston S. (2017) Virtual Reality as New Media is Revolutionary. Int J Adv Technol 8: 182. doi:10.4172/0976-4860.1000182.
  5. Kaul V. (2012) The Pros and Cons of New Media and Media Freedom. J Mass Commun Journalism 2:114. doi:10.4172/2165-7912.1000114.

Thursday, July 14, 2016

35mm VS 50mm : Eternal Rivals

We bought a DSLR or CSC (Mirrorless / DSLM), we were very pleased with it, until few weeks, days, or even hours ago when we wanted more from our beloved camera. Almost all of the entry or mid-level DSLR / CSC are shipped with a standard zoom kit lens, and most of the time those are good enough for starters or practice. But as we hone our photography skill, gaining experience, and getting more and more used to our cameras, some of us may feel that the kit lens has its limits, and probably can't do the things we want. The solution for this problem is quite simple probably, you just need to buy a new lens, but with that comes a new array of questions as I've written in my previous post "Picking The Right Lens", you can use that guide to contemplate then decide which lens will suit you the best.

In this post however, I'm gonna write about my past experience when I was going to buy the third lens for my current camera (Olympus OMD E-M10 Mk.1). Here's the situation, I already had the standard zoom lens (14-42mm F3.5-5.6) and the telephoto zoom lens (40-150mm F4-5.6), so I planned to buy a prime (fixed) lens to compensate the small aperture of my previous lenses. Long story short, I was tortured to choose between a standard prime lens or macro lens. I love photographing flowers so a macro lens would probably suit me the best, but then again you can use a telephoto lens to get 'above average' result when it comes to flowers. Plus many experts recommend to get a standard prime lens for an all-rounder, especially when the lighting is not working in your favor. Ultimately, I decided to get a standard prime lens first, before buying a macro lens (hopefully in near future).

When it comes to the 'standard' focus length, there are two most famous focal lengths, 35mm and 50mm, but which is BETTER? Well, you can read many photography books or magazines, read reviews and people's opinions,  but still not getting a satisfying answer, many will say that 35mm is the better choice, while others say 50mm is the 'nifty-fifty' and better than the 35mm. My answer? Again, it depends on your needs and what you like to photograph.

So, why do 35mm and 50mm are called the 'STANDARD' lens? Simply because those focal lengths are the closest to our vision / field of view (what you see through your eyes). For example, imagine that you're looking to your monitor, your eyes are focused on looking at the pictures on the monitor. Sure enough you can still see... let's say a Mac Mini on the left of your monitor, a glass half-filled with two-hours-old instant coffee in front of it, and a pile of comic books on your right, but because your eyes are focused on the monitor, other things seemed blurry / unfocused. 35mm and 50mm lenses will produce image similar to what you see right now, with some differences though.
  • 50 mm : only takes the FOCUS part of your vision, so from the example above if your eyes are focused on the monitor, then a camera with 50mm lens will only take a photo of the monitor, with (maybe) a bit of area around it.
  • 35 mm : takes almost the same picture as your vision / field of view including the blurry part (in your eyes, not in the camera). From the example above, we can safely assume that the camera will take photos of the monitor, along with the Mac Mini, glass, and also the pile of comic books.
Note : rest assured, the 35mm lens will not take photos that are blurry on the edges (unless you do it on purpose), this is just a depiction to make you easier to understand how broad those focal lengths are.

35mm & 50mm : Both are equally good, trying to say that one's better is like trying to decide which one is first, egg or chicken? It's pointless


In the end, both are good for your everyday all-rounder lens, but each of them still has their own unique use :
  • 35mm pluses vs 50mm
    • More suitable for all-rounder lens considering its broader range
    • More suitable for scenery and landscapes, and for taking photos of larger group of people
    • Street photography will also benefit from the 35mm because you can fit more subjects / objects into a photo
35mm for potrait, but the point is to get more of the scenery
behind the subject rather than the subject herself
(Photo courtesy of : www.petapixel.com)

  • 50mm pluses vs 35mm
    • Can be used as backup potrait lens, because it has less distortion than 35mm
    • If your objects are quite far, this lens may help you because of its longer reach
    • Can also be used for taking scenery / landscapes, but a more focused one (this might be good in some cases, as the audience might have better understanding about what you try to show)
    • The entry-level 50mm lenses are USUALLY cheaper than the 35mm (albeit not by much)

Used my E-M10 & Panasonic Leica 25mm (50mm) for this
shot, coupled with a bit of digital zoom, enabled me to get
reasonably close to the objects


ONE FINAL NOTE, The 50mm and 35mm I talk about are the focal length in FULL-FRAME camera, so if your camera has smaller sensor, make sure to multiply the focal length on the lens by its multiplier to get the 'real' focal length. For example if you have the 35mm Fujinon Lens for Fujifilm X-T10, you'll end up with 52.5mm focal length, because the sensor is APS-C, not Full Frame. Here's the multiplier for each sensor size :
  • APS-C : Focal length  x  1.5, except for Canon x 1.6
  • Micro Four Thirds  : Focal length  x  2
  • 1 inch (Nikon 1 Series) : Focal length  x  2.7
  • 1/2.3 inch (Pentax Q Series) : Focal length x 4.7 (Q7 & Q-S1), x 5.6 for others

Monday, July 4, 2016

Picking The Right Lens

One main problem when you have a DSLR or Mirrorless camera is choosing the right lens. With so many choices in the market, consumers are left confused, which is the best lens? Well one thing for sure, there is NO such thing as the best lens. Let's say there is a great quality lens that produces superb photos with body made of feather-weight super-durable carbon fibre (no, carbon fibre lens does not exist, but maybe it will in the future), but almost 100% of the time it has a super expensive price tag as well. So, there is no way to get a 'perfect' lens without paying a high price, but you CAN still get a decent or better lens while having to pay less by of course sacrificing some things in return. In the end, the art of picking lens is made up by your camera (brand, type, etc), what your needs are, and how much budget you have.

1. Camera
  • What is your camera? Is it a DSLR (Digital Single Lens Reflex), or DSLM (Digital Single Lens Mirrorless / CSC)?
  • What is your camera sensor size? Full-Frame, APS-C, Micro Four Thirds, 1 inch, or even a medium format? You can usually find this information in the product specification page of your camera's user guide, and some brands even print it on the body of the camera. You can USUALLY use bigger sensor lens for smaller one (for example : Full-Frame to APS-C), but NOT vice versa, in one condition that they're meant fot the same brand or adapter.
  • What is your camera's brand? You don't really wanna accidentally buy a Sony lens for your Canon DLSR at home. Of course, there is an accessorry called 'adapter' which enables you to mix and match different type of brands, sensor sizes, and lenses (Example : Pair a Micro Four Third Panasonic CSC with a Nikon APS-C DSLR lens), BUT you usually have to sacrifice the camera's Autofocus function and even some image quality, plus matching a lens for a camera with different sensor size means different focal length which you have to count by yourself. Some more expensive adapters still enable you to use the Autofocus though, but those are rare and not available for all brand nor camera.



2. Your Needs
  • What do you like to photograph? Human, nature, animals, flowers, or small objects? Different object needs different type of lenses, especially on the focal length. 
  • 16 - 28mm : Ultra Wide / Wide lens, suitable for taking photos of the environment because of its wide scope. Also suitable for taking photos of lot of people and fashionscape (fashion and landscape mixed together). Beware of lens distortion though (straight lines become slightly curved, more apparent on the edge of the photos, not so in the center).

  • Sony 16mm (24mm) F2.8 Pancake Lens - APS-C (4 million Rupiah / US$ 305)
  • 35 - 50mm : Normal Lens. This category is an all-rounder, usually suitable for any kind of shooting. Called 'normal' focal length because it has almost the same field of view with our eyes. This is usually the first choice for beginners because of its naturally wide aperture and lower price (although some premium or pro series still cost you a fortune). 

    • Panasonic Leica DG Summilux 25mm (50mm) F1.4 - m4/3 (6,8 million Rupiah / US$ 520)
  • 75 - 150mm : Mid-Telephoto / Potrait Lens. Like its name, this category is the cream of the crop when it comes to shooting potraits. It comes back to you whether you prefer the shorter focal length (75-90mm) or the longer one (100-150mm), longer focal length usually means greater bokeh, but some prefer the shorter one so they can get more intimate with the model.

  • Olympus M.Zuiko 75mm (150mm) F1.8 - m4/3 (12 million Rupiah / US$ 920)

  • > 200mm : Telephoto Lens. This comes with variety of focal lengths and sizes. Some are small like normal zoom lens, and some are very huge with the added benefit of stability and picture quality (and high price). Often used when you can't get too close to the subject (wild animals, birds, distant landscapes, or sports).
  • Nikon AF-S 300mm F2.8 - Full Frame (81 million Rupiah / US$ 6180)


  • Macro Lens : Used to photograph very small objects (insects, flowers, etc) because you can get very close to the subject and the lens will still focus, paired with excellent sharpness in most cases. Comes in wide variety of focal lengths from 30mm, 45mm, 60mm, and even up to 100mm.

  • Panasonic Leica DG Macro-Elmarit 45mm (90mm) F2.8 - m4/3 (8,8 million Rupiah / US$ 670)

  • Fisheye Lens : Even wider than the ultra wide lens, fisheye typically comes in the range of 8 - 14mm. This lens enables you to capture very wide scenery, even up to 180 degree! However, keep in mind that most fisheye lens have high distortion rate, meaning your pictures will look rounded rather than flat.

  • Samsung 10mm (15mm) Fisheye Lens F3.5 - APS-C (4,2 million Rupiah / US$ 320)
  • You lens is an amazing stuff and its function is not only limited to one thing. You can use macro lens for potraits or telephoto to take photos of flowers, and the results might be better than you'd expect. Improvise and keep learning, because the only limit in the world of photography is your imagination.
  • Fixed or Zoom Lens? Zoom Lens will give you more flexibility because you don't need to walk away or get closer to your subject when you want to recompose your photo, use this when you want to travel light and don't want to carry many lenses. The downside? Zoom lens usually has much smaller aperture than fixed lens, making indoor shots with dim light rather tricky, and makes you harder to get good bokeh (especially in short focal length). Fixed lens usually comes in smaller size, have much wider aperture than zoom lens, but trades you with flexibility where you have to move away or closer when you want to recompose your subjects, and sometimes you have less-space-than-you-desired to do it. Although with its wider aperture, shooting indoor with higher shutter speed and lower ISO is much easier.



3. Budget
  • The most infamous problem, budget. You want to buy a dedicated macro lens. but it costs 1.000 bucks, while you only have 500... Still, you have some alternative solutions when budget is the issue.
  • Search for third-party lens, most often than not they sell the same type of lens for quite a lot cheaper. Tamron and Sigma are the most well-known third party lens manufacturers, especially for Canon, Nikon, and Sony DSLRs. They produce many great lenses, some even better than the companies', even more they often sell them with affordable price. Some manufacturers like Samyang and Voigtlander also produce high-quality lenses but almost all of them (if not all) only come with manual focus.
  • Search for second-hand products. Luck plays an uncomfortably large part in this, because finding one with decent quality and bargain price isn't always easy. Better try searching from well-known merchants, they usually sell used products for higher price than individual sellers, but the quality is more guaranteed. For individual sellers it would be much better if you could meet up and test the product yourself before deciding to buy it.
  • Never lazy to browse or search, there are many merchants out there who sell the same product with different price tags. For Indonesian buyer I recommend looking at www.tokocamzone.com for 'normal' price, then search www.tokopedia.com or www.bukalapak.com, and cross your fingers you will find lower price, but make sure the merchant has good reputation and record.